BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

PILGRIM Pameran Tunggal Herry Dim

Orbital Dago Jul 18th - Aug 18th, 2024

PILGRIM
Pengantar pameran Tunggal Herry Dim
 
Oleh Rifky “ Goro “ Effendy
 
Pada pameran tunggalnya bertajuk PILGRIM, seniman Bandung multifacet Herry Dim menghadirkan kembali lukisan-lukisan yang berdasar pada “Wayang Motekar,” sejenis wayang yang ia kembangkan sejak 1990-an. Kali ini dengan menggunakan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) paling sederhana, wayang-wayangnya ia pindahkan ke atas kanvas. Karya-karya ini terlahir kembali sejak beberapa tahun terakhir, terutama ketika pandemi virus covid-19 mulai merebak secara global, yang bagaimana pun bagi sebagian besar masyarakat menjadi penanda penting sebagai ingatan bersama atas suatu masa – masa menakutkan , penuh ketidakpastian, ironisnya kejadian ini dialami kita semua diabad 21  . 
 
Pilgrim yang berarti “peziarah” seperti dimaknai sebagai penghampiran kembali, atau “re-visiting” , maka Wayang Motekar sebagai suatu pijakan penting karya-karyanya. Herry Dim tercatat sebagai penemu "wayang motekar," sejenis seni teater bayang-bayang (shadow puppet theater) yang, menurutnya ;  selama tiga millenium selalu tampil berupa silhouette (hitam putih) kini melalui tangan dan kreativitas Herry Dim menjadi bisa tampil berwarna. Pada Wayang Motekar , Herry Dim menampilkan wayang-wayang dengan permainan dibalik layar dengan bentuk lebih kontemporer, atau bukan berasal dari tokoh – tokoh dari cerita pewayangan seperti wayang tradisi umumnya. Herry menghadirkan tokoh -tokoh yang diciptakan melalui interaksi dengan anak-anak dengan berbagai imajinasinya, selain juga muncul ikon-ikon yang berasal dari dunia seni lukis modern , seperti lukisan Hendra Gunawan , Edvard Munch, Magritte, Picasso hingga karya kontroversial seniman kontemporer Mauritzio Catelan. 
 
Karya-karya Herry Dim walaupun tercipta dengan bantuan teknologi AI yang sederhana, tetapi ia kerjakan melalui metode melukis seperti umumnya, jejak olahan dijital mungkin bisa terlihat pada cara ia membagi ruang dan komposisi , beberapa elemen lukisannya seperti kemunculan bentuk awan  , dan mungkin penerapan warna-warna. Tokoh – tokoh dalam wayang Motekar terjejak jelas pada cara ia menggambarkan tubuh manusia maupun binatang, seperti sambungan pada tangan, lengan dan kaki yang umumnya diterapkan pada wayang kulit tradisi . Lebih lanjut menurut Herry; “ manakala dikerjakan sepenuhnya di atas kanvas, diam-diam saya sering mengalami kemelesetan, ketaksempurnaan jika diukur berdasar presisi komputerisasi, terjadi pula perubahan keinginan di tengah jalan, dan munculnya faktor-faktor ketakterdugaan. Belakangan selama kerja, justru ‘ketaksempurnaan’ dan ‘ketakterdugaan’ itulah yang kemudian dinikmati. Rasanya, itulah ruangnya seni yang tak terlayani oleh AI.”
 
Ketidakterdugaan, ketaksempurnaan, kemelesetan dalam dunia seni rupa (lukis) mungkin masih belum bisa diadaptasi oleh teknologi AI yang didasari sumber data dijital yang berjuta byte (big data) maupun pengaporasian dengan input (prompt) serta kerja algoritma secanggih apapun. Pikiran dan perasaan manusia apalagi seniman mempunyai kelebihan yang Istimewa, walaupun secara ingatan maupun pengetahuan bisa saja terbatas tetapi intuisi mempunyai peran penting dalam hal-hal kreatif. Pikiran-pikiran bisa berkecambah liar secara naluriah tanpa bisa terduga apalagi terhitung. Pengalaman seorang praktisi seni seperti seniman Herry Dim mempunyai intuisi dan insting kreatif yang mungkin lebih dari orang yang mempunyai pengalaman terbatas. Ada artikel disuatu situs daring dari Emi Knape tentang munculnya fenomena AI ini , dimana ia mengungkapkan bahwa, “ Dulu pernah para pelukis takut dengan fotografer akan mengambil alih industri mereka, tapi hal itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, lukisan dan fotografi menjadi media tersendiri, dan itu  akan terjadi dengan AI.” 
 
Pameran PILGRIM seolah menjadi cara Herry Dim  untuk terus intens mengembangkan  wayang Motekarnya , menghidupkannya kembali dalam bentuk lukisan yang melibatkan teknologi sembari membicarakan berbagai hal soal kehidupan sosial yang terjadi saat ini serta dunia kreatifnya . Seperti munculnya sosok anak kecil dengan pakaian seperti tokoh robot, bendera Palestina hingga benda-benda domestik masyarakat tradisional  yang sarat simbol serta menyiratkan ada banyak yang ingin disampaikan. Untuk melengkapi pameran ini, Herry Dim yang juga dikenal banyak menulis di berbagai media massa dan jurnal seni, memberi catatan yang tersendiri dalam e-katalog pamerannya ini. 
 
Sumber. 
 
-       Catatan Herry Dim,  PILGRIM. 
-       https://reporter.rit.edu/tech/artists-vs-artificial-intelligence
 

PILGRIM
Pengantar pameran Tunggal Herry Dim
 
Oleh Rifky “ Goro “ Effendy
 
Pada pameran tunggalnya bertajuk PILGRIM, seniman Bandung multifacet Herry Dim menghadirkan kembali lukisan-lukisan yang berdasar pada “Wayang Motekar,” sejenis wayang yang ia kembangkan sejak 1990-an. Kali ini dengan menggunakan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) paling sederhana, wayang-wayangnya ia pindahkan ke atas kanvas. Karya-karya ini terlahir kembali sejak beberapa tahun terakhir, terutama ketika pandemi virus covid-19 mulai merebak secara global, yang bagaimana pun bagi sebagian besar masyarakat menjadi penanda penting sebagai ingatan bersama atas suatu masa – masa menakutkan , penuh ketidakpastian, ironisnya kejadian ini dialami kita semua diabad 21  . 
 
Pilgrim yang berarti “peziarah” seperti dimaknai sebagai penghampiran kembali, atau “re-visiting” , maka Wayang Motekar sebagai suatu pijakan penting karya-karyanya. Herry Dim tercatat sebagai penemu "wayang motekar," sejenis seni teater bayang-bayang (shadow puppet theater) yang, menurutnya ;  selama tiga millenium selalu tampil berupa silhouette (hitam putih) kini melalui tangan dan kreativitas Herry Dim menjadi bisa tampil berwarna. Pada Wayang Motekar , Herry Dim menampilkan wayang-wayang dengan permainan dibalik layar dengan bentuk lebih kontemporer, atau bukan berasal dari tokoh – tokoh dari cerita pewayangan seperti wayang tradisi umumnya. Herry menghadirkan tokoh -tokoh yang diciptakan melalui interaksi dengan anak-anak dengan berbagai imajinasinya, selain juga muncul ikon-ikon yang berasal dari dunia seni lukis modern , seperti lukisan Hendra Gunawan , Edvard Munch, Magritte, Picasso hingga karya kontroversial seniman kontemporer Mauritzio Catelan. 
 
Karya-karya Herry Dim walaupun tercipta dengan bantuan teknologi AI yang sederhana, tetapi ia kerjakan melalui metode melukis seperti umumnya, jejak olahan dijital mungkin bisa terlihat pada cara ia membagi ruang dan komposisi , beberapa elemen lukisannya seperti kemunculan bentuk awan  , dan mungkin penerapan warna-warna. Tokoh – tokoh dalam wayang Motekar terjejak jelas pada cara ia menggambarkan tubuh manusia maupun binatang, seperti sambungan pada tangan, lengan dan kaki yang umumnya diterapkan pada wayang kulit tradisi . Lebih lanjut menurut Herry; “ manakala dikerjakan sepenuhnya di atas kanvas, diam-diam saya sering mengalami kemelesetan, ketaksempurnaan jika diukur berdasar presisi komputerisasi, terjadi pula perubahan keinginan di tengah jalan, dan munculnya faktor-faktor ketakterdugaan. Belakangan selama kerja, justru ‘ketaksempurnaan’ dan ‘ketakterdugaan’ itulah yang kemudian dinikmati. Rasanya, itulah ruangnya seni yang tak terlayani oleh AI.”
 
Ketidakterdugaan, ketaksempurnaan, kemelesetan dalam dunia seni rupa (lukis) mungkin masih belum bisa diadaptasi oleh teknologi AI yang didasari sumber data dijital yang berjuta byte (big data) maupun pengaporasian dengan input (prompt) serta kerja algoritma secanggih apapun. Pikiran dan perasaan manusia apalagi seniman mempunyai kelebihan yang Istimewa, walaupun secara ingatan maupun pengetahuan bisa saja terbatas tetapi intuisi mempunyai peran penting dalam hal-hal kreatif. Pikiran-pikiran bisa berkecambah liar secara naluriah tanpa bisa terduga apalagi terhitung. Pengalaman seorang praktisi seni seperti seniman Herry Dim mempunyai intuisi dan insting kreatif yang mungkin lebih dari orang yang mempunyai pengalaman terbatas. Ada artikel disuatu situs daring dari Emi Knape tentang munculnya fenomena AI ini , dimana ia mengungkapkan bahwa, “ Dulu pernah para pelukis takut dengan fotografer akan mengambil alih industri mereka, tapi hal itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, lukisan dan fotografi menjadi media tersendiri, dan itu  akan terjadi dengan AI.” 
 
Pameran PILGRIM seolah menjadi cara Herry Dim  untuk terus intens mengembangkan  wayang Motekarnya , menghidupkannya kembali dalam bentuk lukisan yang melibatkan teknologi sembari membicarakan berbagai hal soal kehidupan sosial yang terjadi saat ini serta dunia kreatifnya . Seperti munculnya sosok anak kecil dengan pakaian seperti tokoh robot, bendera Palestina hingga benda-benda domestik masyarakat tradisional  yang sarat simbol serta menyiratkan ada banyak yang ingin disampaikan. Untuk melengkapi pameran ini, Herry Dim yang juga dikenal banyak menulis di berbagai media massa dan jurnal seni, memberi catatan yang tersendiri dalam e-katalog pamerannya ini. 
 
Sumber. 
 
-       Catatan Herry Dim,  PILGRIM. 
-       https://reporter.rit.edu/tech/artists-vs-artificial-intelligence
 
 

© BDG Connex 2017 - 2026