BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

AUM : Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra

Orbital Dago May, 6th - 31st


AUM


Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra


6 – 31 Mei 2026


AUM  Ditengah Hibriditas Budaya.


Latar Budaya.


Ketut Adi Candra (lahir 1973) adalah seorang pelukis dan pemangku (jero mangku) adat di lingkungan Banjar Silakarang, Singapadu, kec. Sukawati, Gianyar, Bali.  Menamatkan pendidikan di ISI Denpasar jurusan Seni lukis pada tahun 1998, Adi Candra menjalani profesi sebagai pelukis di dalam  kehidupan masyarakat kontemporer Bali dimana tradisi, kapitalisme, dan modernitas berlangsung serentak dan cair. Keserentakan yang kerap menimbulkan ketegangan tata nilai yang dipegang secara individual maupun kolektif.  


Sebelum menjadi jero mangku  hingga tahun 2017, Adi Candra mengakui hidupnya berantakan, mudah marah, dan pesakitan.  Ia tidak mau menjalankan karma sebagai jero mangku, ia menjalani hidup sebagai manusia bebas. Hingga akhirnya dia merasa lebih tertata dan nyaman setelah ia menerima karma sebagai jero mangku. Bahkan ia menyebutnya sebagai kebahagiaan hidup. Cerita ini bisa dibaca sebagai bentuk ketegangan nilai pada individu yang dilanda keserentakan tadi.


Ihwal AUM dan Karya.


“Aum” atau “Om” adalah resonansi kosmik, sering dilantunkan sebagai awal dan akhir mantra atau doa dalam Weda, dianggap sebagai getaran suci yang menghubungkan manusia dengan yang ilahi. Dalam agama Hindu Aum adalah suku kata suci, mantra tertinggi, dan suara kosmis primordial yang melambangkan Brahman (realitas tertinggi/Tuhan). Ini mewakili esensi alam semesta, meliputi masa lalu, kini, dan masa depan. Bunyi A-U-M melambangkan Trimurti yaitu Brahma (penciptaan), Wisnu (pemeliharaan), dan Siwa (penghancuran). Ketika saya mengajukan “Aum” sebagai judul pameran ini, Adi Candra sempat menolak karena kesuciannya. Aum sebagai realitas tertinggi yang disucikan. Saya jadi teringat pada pandangan masyarakat adat Baduy yang teu wasa (sunda Baduy: tidak sanggup) untuk menyebutkan Dia Yang Maha Suci. Kesucian yang tabu diucapkan, karena profanitas pada ucapan.


Judul AUM akhirnya digunakan karena menimbang pada karya-karya Adi Candra itu sendiri. Bagi Adi Candra, melukis bukan hanya melaburkan cat di kanvas. Sebagai pemeluk Tantra, melukis dipandang sebagai perpaduan antara Laku Dharma (Sakral) dan Laku Profesi (Profan). Melukis adalah sebuah yadnya atau persembahan. Proses pembuatannya sering disertai dengan doa, dan niat suci (bhava). Seniman menempatkan dirinya sebagai saluran atau perantara bagi energi kreatif Tuhan (Sang Hyang Widhi). Pada karya berjudul “Energi Tantra” misalnya, Adi Candra menganggap lukisan itu merupakan manifestasi dari energi Tantra yang didahului oleh meditasi .


Secara visual, lukisan Adi Candra memperlihatkan gaya visual yang mendapat pengaruh teknik melukis modern yang ia pelajari di akademi. Sapuan liar, tekstur, sembutar warna, mengahasilkan lukisan abstrak. Namun di antara sapuan-sapuan tersebut, ia menyelipkan simbol-simbol sakral Bali, seperti rerajahan, ornamen sesembahan dan sejenisnya. Simbol simbol itu nyaris samar tersembunyi diantara sapuan- sapuan liarnya. Seperti sesuatu yang maya dan transenden.


Bambang Subarnas, Kurator.


AUM


Pameran Tunggal I Ketut Adi Candra


6 – 31 Mei 2026


AUM  Ditengah Hibriditas Budaya.


Latar Budaya.


Ketut Adi Candra (lahir 1973) adalah seorang pelukis dan pemangku (jero mangku) adat di lingkungan Banjar Silakarang, Singapadu, kec. Sukawati, Gianyar, Bali.  Menamatkan pendidikan di ISI Denpasar jurusan Seni lukis pada tahun 1998, Adi Candra menjalani profesi sebagai pelukis di dalam  kehidupan masyarakat kontemporer Bali dimana tradisi, kapitalisme, dan modernitas berlangsung serentak dan cair. Keserentakan yang kerap menimbulkan ketegangan tata nilai yang dipegang secara individual maupun kolektif.  


Sebelum menjadi jero mangku  hingga tahun 2017, Adi Candra mengakui hidupnya berantakan, mudah marah, dan pesakitan.  Ia tidak mau menjalankan karma sebagai jero mangku, ia menjalani hidup sebagai manusia bebas. Hingga akhirnya dia merasa lebih tertata dan nyaman setelah ia menerima karma sebagai jero mangku. Bahkan ia menyebutnya sebagai kebahagiaan hidup. Cerita ini bisa dibaca sebagai bentuk ketegangan nilai pada individu yang dilanda keserentakan tadi.


Ihwal AUM dan Karya.


“Aum” atau “Om” adalah resonansi kosmik, sering dilantunkan sebagai awal dan akhir mantra atau doa dalam Weda, dianggap sebagai getaran suci yang menghubungkan manusia dengan yang ilahi. Dalam agama Hindu Aum adalah suku kata suci, mantra tertinggi, dan suara kosmis primordial yang melambangkan Brahman (realitas tertinggi/Tuhan). Ini mewakili esensi alam semesta, meliputi masa lalu, kini, dan masa depan. Bunyi A-U-M melambangkan Trimurti yaitu Brahma (penciptaan), Wisnu (pemeliharaan), dan Siwa (penghancuran). Ketika saya mengajukan “Aum” sebagai judul pameran ini, Adi Candra sempat menolak karena kesuciannya. Aum sebagai realitas tertinggi yang disucikan. Saya jadi teringat pada pandangan masyarakat adat Baduy yang teu wasa (sunda Baduy: tidak sanggup) untuk menyebutkan Dia Yang Maha Suci. Kesucian yang tabu diucapkan, karena profanitas pada ucapan.


Judul AUM akhirnya digunakan karena menimbang pada karya-karya Adi Candra itu sendiri. Bagi Adi Candra, melukis bukan hanya melaburkan cat di kanvas. Sebagai pemeluk Tantra, melukis dipandang sebagai perpaduan antara Laku Dharma (Sakral) dan Laku Profesi (Profan). Melukis adalah sebuah yadnya atau persembahan. Proses pembuatannya sering disertai dengan doa, dan niat suci (bhava). Seniman menempatkan dirinya sebagai saluran atau perantara bagi energi kreatif Tuhan (Sang Hyang Widhi). Pada karya berjudul “Energi Tantra” misalnya, Adi Candra menganggap lukisan itu merupakan manifestasi dari energi Tantra yang didahului oleh meditasi .


Secara visual, lukisan Adi Candra memperlihatkan gaya visual yang mendapat pengaruh teknik melukis modern yang ia pelajari di akademi. Sapuan liar, tekstur, sembutar warna, mengahasilkan lukisan abstrak. Namun di antara sapuan-sapuan tersebut, ia menyelipkan simbol-simbol sakral Bali, seperti rerajahan, ornamen sesembahan dan sejenisnya. Simbol simbol itu nyaris samar tersembunyi diantara sapuan- sapuan liarnya. Seperti sesuatu yang maya dan transenden.


Bambang Subarnas, Kurator.
 

© BDG Connex 2017 - 2026